Picture
Caption: CIU BEKONANG
Caption: Bekonang. Desa kecil di Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, ini merupakan sentra pembuatan alkohol –tepatnya etanol atau alkohol dengan kadar 90 persen.
Namun, desa ini lebih dikenal sebagai penghasil ciu, minuman keras tradisional yang merupakan bagian dari proses pembuatan alkohol.
Picture
Caption: Di Bekonang, industri rumahan ciu pertama kali muncul tahun 1930-an dibawa oleh kolonial Belanda. Mereka ajarkan penduduk membuat ciu dari tetes tebu –sisa prosuksi gula Pabrik Gula Tasik Madu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Picture
Caption: Ciu adalah alkohol dengan kadar 35 persen hasil penyulingan tetes tebu
Picture
Picture
Picture
Picture
Caption: Sejak produksi pertama sampai kini, pembuatan ciu dilakukan dengan peralatan tradisional. Tungku dari tumpukan bata merah, pipa destilasi, dan drum minyak. Proses pembuatannya pun sangat sederhana, drum diisi adonan tetes tebu, air, dan ragi yang didiamkan selama lima hari untuk fermentasi.
Caption: Proses selanjutnya adalah penyulingan. Adonan dimasukka ke drum, dan dimasak dengan tungku untuk diambil uap airnya. Uap air dialirkan ke dtum-drum pendingin melalui pipa-pipa.
Hasil penyulingan tiga jam pertama adalah ciu, sedangkan untuk menghasilkan etanol butuh waktu sepekan.
Picture
Caption: Sekitar tahun 1990-an, Pemerintah melarang pembuatan ciu.
Alasannya, ciu merupakan produk minuman keras yang hanya akan membawa masyarakat ke kegelapan. Ironis. Ciu dihapuskan, tetapi minuman beralkohol bermerk dibolehkan beredar.
Hmmm..
Picture
Picture
Caption: @ganugnugroho #stellerid
ganug nugroho is a indonesian journalist
live and work in solo
central java