2018 itu...

#steller2018

Penuh rasa.

AWAL TAHUN

Saya sudah kehilangan. Ditinggal salah satu teman seperjuangan saya. Teman yg memiliki banyak persamaan latar belakang dengan saya, harus pindah ke Australia.

Berat rasanya kehilangan orang yg paling mengerti tentang apa yg saya lalui, karena dia juga mengalami apa yg saya alami.

Saya senang sekali saat diundang ke rumahnya untuk pertama dan juga terakhir kalinya. Bahkan Dia juga memberi beberapa buku kepada saya.

Darinya saya belajar, untuk tidak mengeluh dan tidak menyerah.

Terimakasih Aisyah! Sampai bertemu lagi!

Tapi ternyata benar adanya, setiap ada perpisahan, pasti ada pertemuan. Dan saya pun dipertemukan dengan si

DIA,

Yg selalu bisa membuat saya tertawa, yg tak penat mendengar keluh kesah saya, yg membuat saya lebih dekat pada Sang Pencipta

Dan yg pasti, membuat hari saya penuh warna

Zahida namanya. Indah ya? Persis seperti budinya.

Hei kamu yg merasa, apa kabar di sana? Semoga bahagia ya

APA KAMU INGAT

Saat tawa lepas kita memenuhi seisi kelas, saat kita berlarian di koridor kelas, saat kita terdiam di kelas Kimia yg gurunya terkenal dahsyat, saat kita terdampar di luar kelas karena terlalu asik menjual sosis solo dan kawan kawannya..

Mungkin ada orang yg melihat kita sebagai satu kesatuan yg tidak bisa dipisahkan. Tapi nyatanya, ada saja hal yg membuat kita berselisih paham.

CEKCOK?

Tentu pernah. Tapi rasa ingin saling menjatuhkan itu runtuh dengan sendirinya. Apa karna ada suatu ikatan tak kasat mata? Entahlah, saya juga masih bingung

Satu hal yg tidak pernah saya ungkapkan. Sampai sekarang saya masih sering menyesal, karena tidak ada saat kamu kehilangan salah satu orang yg sangat berarti di hidupmu. Maaf ya, Zahida.

Saya pun tenggelam dalam pikiran. Setelah diingat ingat, sering sekali ya kita tertawa lepas karena hal-hal konyol yg tak jelas.

Tapi saya senang kok, bersyukur bisa dipertemukan dengan insan sepertimu. Terimakasih.

Pesan saya cukup singkat. Jangan pernah jauh dengan Sang Pencipta, Dan jangan pernah berhenti percaya. Oh iya satu hal lagi,

Sukses ya kamu di sana! Doa saya selalu menyertai, sampai jumpa Juni nanti!

Selain Dia, saya juga dipertemukan dengan manusia manusia hebat lainnya seperti

KALIAN

Yg juga sering membuat saya tertawa, yg tak lelah menjadi guru dan menjelaskan berbagai pelajaran yg tak kunjung saya mengerti, yg menjadi pendengar segala cerita

MASIH

tentang orang yg sama, ada satu karya dari teman baik saya,

Rifat namanya. Hebat ya, dia bisa menggambarkan kelakuan kami sehari hari hanya dalam 1 gambar.

TERIMAKASIH

Karena membuat tahun terakhir saya di kelas 11 bersama kalian menjadi lebih berarti.

MEREKA

Saya juga dipertemukan dengan Yg dengan sabar menjalankan amanah tanpa mendapat bimbingan sebagaimana mestinya.

SUNGGUH

Terimakasih banyak karena sudah membuat saya bangga. Maaf saya tidak bisa mendampingi kalian di puncak acara, saat tugas kita sedang berat-beratnya. Satu harapan saya, semoga hal yg kita lalui bisa jadi pengalaman yg berarti.

2018 juga menjadi tahun yg manis untuk saya, karena pada akhirnya bisa berpetualang bersama salah satu orang hebat yg ada di sekitar saya.

INI DIA ORANGNYA

Yg bersedia mendengar keresahan saya, orang yg selalu punya cerita untuk diceritakan, orang yg sangat tangguh tapi juga rapuh.

Terimakasih Kak Nouvna atas segala inspirasinya. Doakan semoga tahun 2020 nanti kami bisa satu almamater lagi.

17 AGUSTUS

Kembali mengaduk laci memori, 2018 memberi kesan tersendiri

PAMIT UNDUR DIRI

bersama mereka, yg sudah setahun penuh mengabdikan diri. Atas semua manis pahit yg sudah kita lalui, saya ucapkan terimakasih.

Juga memberi tongkat estafet kepada dua Adik kami, yg saya yakin saat ini dalam proses untuk menjadi Kakak yg lebih baik dari kami.

Di tengah canda tawa selepas upacara, handphone saya bergetar. Sebuah email masuk, memberi kabar tentang tanggal keberangkatan saya ke Negeri Paman Sam.

Keberangkatan saya ditunda. Lagi.

Marah, kecewa, iri, semua bercampur jadi satu. Tapi Tuhan memang sudah menyiapkan jalan yg terbaik untuk umat-Nya.

Kalau niat sudah diiringi dengan usaha, apalagi yg bisa kita lakukan selain berdoa?

Kalau saat itu Tuhan tidak menunda keberangkatan saya,

Mungkin saja saya tidak diantar Ibu saya, karena beliau sedang bertugas di belahan dunia lainnya. Omong-omong, maafkan jidat saya ya

KALAU SAAT ITU

Tuhan tidak menunda keberangkatan saya, saya tidak akan dipertemukan dengan mereka

Yg dengan ikhlas membuka pintu rumahnya untuk tempat saya berpulang selama sepuluh bulan, yg setia mendengar berbagai pengalaman baru yg saya rasakan, yg menjadi alasan saya bisa bertahan,

Dan yg paling penting, membuat saya menjadi bagian dari keluarga

Surat Dari Jauh yg saya dapat di penghujung 2018 menyadarkan saya kalau kami, para siswa pertukaran pelajar, sudah memasuki masa half time. Sejujurnya saya takut. Karena seperti kata Hatta, tidak ada yg mengajarkan kami untuk mengucapkan selamat tinggal dengar benar.

TAPI ITU LAIN CERITA

Saat ini saya hanya bisa menghargai sisa waktu yg ada, mengingat lagi siapa saya sebenarnya dan apa tujuan saya, mencapai apa yg belum bisa tercapai sebelumnya,

DAN YG PASTI

membuat momen lain yg nantinya akan menjadi cerita untuk dikenang.

Sekali lagi terimakasih Tuhan, karena telah menitipkan Hamba kepada mereka

Masih banyak rasa terimakasih saya di 2018

Rasa terimakasih kepada keluarga yg selalu mendukung saya

Rasa terimakasih karena didatangi mereka

dan juga mereka, yg entah karena apa rela menguras waktu dan tenaga mengunjungi rumah saya

Rasa terimakasih atas teman seperjalanan yg luar biasa

Rasa terimakasih atas teman seperjuangan yg juga luar biasa

Rasa terimakasih atas teman baru dari mancanegara

Juga rasa terimakasih kepada Naura Adila alias Udil, teman saya yg entah bagaimana selalu ada tapi satu foto dengannya pun saya tak punya

Masih banyak kenangan yg berputar di kepala saya. Ah memori ini, ingin rasanya kembali ke saat-saat itu. Tapi ada satu tahun baru yg siap untuk dijelajahi bukan?

Selamat datang 2019!

Jadi tahun yg penuh arti ya! #stellerid