ドア

Selamat datang, Gentara. Datang berkunjung karena sebuah permainan sederhana?

Siapkah dirimu untuk menjelajah waktu bersamaku?

Nostalgia lama membawa cerita, ungkapan rasa membawa petaka, bagai purnama di atas cakrawala, Ia menyebutnya sebagai 'lentera setengah jiwa'

24.

Hari itu, lebih tepatnya pukul 19:09 Ada sebuah kesalahan, ada sebuah rasa yang seharusnya tak ada, hilang.

Aku tak pernah berpikir bahwa akan ada sosok lain Utara dan Bara. Kerap kali kami menatap langit yang sama, merapalkan doa yang sama. Berharap sang candra mendengar harap akan dirinya dalam rasa yang sama. Yang kini membawa petaka. Sialnya, jatuh cinta adalah kutukannya.

我愛你

Lagi-lagi tidak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa aku akan membawa rasamu. Yang kini kugenggam erat di dalam hatiku. Kamu bilang tidak ada yang tertinggal, semua ada bersamaku, 'kan? Aku meninggalkan kata untukmu, yang takkan pernah engkau tahu. Bahwa aku menyayangimu, kala itu.

Hati dan pikiranku kacau. Semua seakan menjadi belati dimataku. Sirna. Dan hadirnya dirimu mampu membunuh semua bunga yang ada. Siapapun diriku, aku menyayangimu, Gentara.

bENTAR, MASIH KETAWA SAMPAI SEKARANG. nGAKAKAKAKAKAKA

I don't know how to say. Am I a lucky girl? I don't know. And I'll never know that. Entahlah, rasanya malam itu adalah malam dimana kamu mencekik saya. Malam dimana saya sudah tak mampu lagi berkata. Hilang. Bahkan saya gak tidak mampu menjabarkan perasaan saya sekarang. lol.

Kamu tahu, mungkin kamu bukanlah yang pertama bagi saya. Dan saya pertama bagimu. Dan saya pun tidak tahu, apakah saya yang menjadi yang terakhir bagimu. Ataukah kamu menjadi yang terakhir bagi saya. Kita sama-sama tidak tahu perihal itu. Harapan ini sederhana, tetap genggam erat jemari ini. Hingga waktu berkata ; "Cukup sampai disini."

— 2 ? ? ?

Purnama pertama. Dan aksara ini masih sama.

Ingat ini, 'kan? .... I'm sorry, Gentara.

Ayok kita ke bidan, periksa mata ko :D

Emang gak bisa jawab sebenarnya, 'kan? Gak usah banyak alasan. Aku maklumin kok otak ko itu, hehe

4qu3 j03j03r p4d4h4l 👎

Tolong sadar diri, Pak. Bapak yang ngajarin saya loh. Itu juga, sudah tau missqueen masih aja songong mau naik car. Bayar dulu utang pecel lele depan rumah!

bajingan

Emang munafik

tampar aque

jangan kutuk aque

SONGONGNYA NAIK KASTA

Otaknya biasa mikir gituan makanya mikir ginian doang lamanya udah kayak nunggu nenek² ngosok daki. Lama. Mana banyak alaZan

Banyak mau.

no caption #fff #lfl

Baru juga hari pertama, gayanya jadi Ayah aja sok banget dari pasifik sampai himalaya ;(

Satu kata buat Genta ; l e m o t.

Parah sih, disindir :( Yha aq taw kok aq salah, mz aq ini manusya, tak luput dari dosya nomu nomu nomu mianheq

Lupa? Kan lagi wawancara pekerjaan ngupas bawang sambil kayang

Ayuk atuh bangun rumah tangga sama aku. Aku jamin kamu kinclong sekali bilas.

Tau, gak? Aku begini aja sudah kesem-seman sendiri, sesederhana itu

MASIH INGAT DONG WKWKWK

Asli, ketawa. Serius. WQWQWQ sekali² dong gantian gwa yang godain lo. Masa lo mulu?!

Sedih dong gak dibales ;(

Gak kreatif nih, pakai kata-kataku sebelumnya. "Ada, menembus rindu ke Genta"

Padahal belum tidur, kan turun dari loteng ke ruang tamu butuh waktu 1 menit 224 detik. Gimana sih. Protes aja nih botol kecap

now playing : Raisa - Serba Salah

Setelah ini, peluk ya? tok tok tok!

Entahlah. Kau tahu rasa hangat ketika rasa dingin menusukmu? Sejak awal aku bertemu denganmu, hingga sekarang kita bersama. Setelah semua yang telah kita lewati, apakah aku pantas menjadi rumahmu? Tempat dimana kamu berteduh— selama ini.

Matamu bagai telaga sajak yang paling gemar kubaca. Di cermin matamu, aku menemukan sesuatu yang memabukkan— yang bahkan tidak kuketahui apa namanya. Jauh dibalik indahnya matamu, ada aku yang menyelam hingga ke dasar samudera.

Jika disuruh memilih antara bulan dan bintang. Aku tidak memilih keduanya. Terlalu klasik untuk ukuran kisah percintaan yang mengidamkan cerita romantis di setiap jalannya. Aku lebih memilih menjadi selimut dan tirai yang menyibakmu malas, ataukah sinar mentari pagi yang mengintipmu malu-malu. Mengecup pagimu setelah berhasil membuat bulan dan bintang cemburu, semalam.

Tidak masalah jika aku menjadi pena matimu, ataukah menjadi candaan hambarmu. Aku akan menjadi yang paling dibenci dan keganjilanmu yang menjadi genap ; bersama hingga mengucap, "Aku ingin bunga yang banyak, agar tidurku wangi."

Mentari di pelupuk tenggara, endap-endap di sisi telaga, entah mengapa tenang dalam kebisuan, kebisuan yang membawaku terdampar, jauh dibawah alam sadar. Bertemu adalah suatu kesialan, menunggu pagi yang tak kunjung datang. Mengutuk diri untukmu karena telah jatuh hati.

Halo, Gentara. Kita bertemu lagi di pintu yang sama. Apakah perjalananmu melelahkan? Huh, maafkan aku. Berkali-kali kamu harus berhenti di tengah jalan karena ada kesalahan dalam ruang waktu. Namun, aku harap kamu menikmati perjalanan ini. Mari bertemu kembali di pintu yang sama di tanggal yang sama dan di bulan yang berbeda. Aku menunggumu!

Sekarang, kembalilah ke permainan. Dan katakan sesuatu kepada Laut. Ia pasti telah menunggumu sejak tadi. Goodluck untuk tujuan selanjutnya, Gentara!

Siapapun dirimu, Januarga ataukah Gentara. Aku menyayangimu.

    1/57