KAUM BURJOIS

yang sama ingin puas

Pengantar: Yosea Arga Perjalanan kita memerlukan kamar yang duduk. Perjalanan kita selalu mencari rumah untuk singgah. Membuat titik-titik menjadi segumpal awan yang berjalan. Kita tertawa melihat lelaki tua dan alat pancingnya. Atau kita kehausan-setelah kuda-kuda membawa sekarung biji pala ke wajah ratu Belanda. Kita lupa caranya tidur. Kamar itu tak mengenal waktu. Waktu tak berharga di kamar itu.

Matahari adalah anak kecil yang menangis, tidak bisa masuk ke kamar itu. Kamar itu, sebuah batas yang sakral, terkadang banal. Batas perjalanan dan waktu yang tak mengenal tidur siang. Kita berjalan panjang.

Lelaki Sunda itu, garis alisnya terjadi pembangunan besar-besaran. Pabrik kondom, supermarket dan taman kanak-kanak. Sebuah alis dengan kekerasan negara. Lelaki ikal itu, terminal bus mogok makan. Realisme magis para penulis Amerika Latin mengintip malu-malu dibalik rambutnya. Membuat puisi seperti kesibukan menarik selimut sebelum tidur.

Kita masih tertawa melihat seorang lelaki tua, wajahnya tidak berpagar. Ikan-ikan berenang di wajahnya. Wajah tua yang gelisah, tirus dan sebuah kanal yang terbalik di ujung muara. Seorang lelaki yang membonceng pada perjalanan kita. Pete cina, kracak keong, daun kecubung berbusa di mulutnya.

"Lelaki tua itu, seperti bongkahan kapal perang, kacau! Seperti tanaman perdu."

Kata lelaki Sunda itu.

Lelaki ikal tertawa terpingkal.

Perjalanan malam itu seperti berjalan di lorong bahasa yang sunyi. Tidak mengenal waktu dan seks. Perjalanan itu tidak naik kereta. "Kita pakai tubuh lelaki tua itu untuk berjalan. Untuk melihat dunia yang berwarna hijau dan merah marun."

"Akankah kita melihat kamar itu sebagai kendaraan berjumpa lautan yang luas, sendang-sendang yang bening dan dunia kelembutan bibir perempuan jika lelaki tua itu masih memancing gurame di kamar itu?" Dan kita masih tertawa melihat lelaki tua itu.

Bung yang disana! Yang bertengger garuda di dada. Pagari pikiranmu! Jangan rumah saja.

Kami ini orang-orang yang gusar.

"Oh! Jadi bung sedih, gak ada pasangan di malam Minggu? Bung! Coba kau jelaskan rasanya gak ada kerjaan di hari Senen!"

Kau tahu, Bung dewan! Ada keringat kami di helai benang bajumu! Ada darah kami diujung jarum perajut celanamu!

Jalanan tiada pernah ada ujungnya. Berkelok kesana kemari, kadangnya kembali lagi. Jalanan tiada pernah habisnya. Ada yang ke desa, pun ke kota. Kadangnya ke laut. Yang sedari tadi bingung, cuma bisa manggut-manggut. Ikut ke kiri, ke kanan. Tak dijadikan di kepala, kemana-mana maunya. Jalanan tumbuh tidak usang. Elok berkelok tiadanya muram. Kadangnya ikut jadi jalang.

Senyumin aja! Mbak asisten cantik.

"Buku tuh dipinjam dan dibaca secara ber-tanggungjawab!"

CO-FOUNDER GOBAN

Perjuanganmu, Bung dewan, bukan duduk tidur diam di sana! Malu sama burung perkututmu!

Bung! Sejarah kerap dilupakan Sejarah kerap disalah tafsirkan Sejarah kerap dimainkan Maka teramat senanglah aku bila orang-orang tidak lupa, tidak ngawur dan tidak cacat sejarah.

Waktu membatu, angka tiga di bahu. Kadang terburu-buru, kadang lesu.

Tak ada lautan luas yang bisa dipandang

Batas perempuan di dinding. Antara dipandang dan memandang. Aku berdiri. Garis mataku d wajahmu. Mata yang melihat bukanlah mata yang menentukan

Kadang buka lewat pukul tiga. Dosa besar!

"Alavyah Mwah ikkeh Kimochiiiih!"

CO-FOUNDER GOBAN

@burjoisgoban

adalah tempat nongkrong adalah perpustakaan adalah jualan merchandise adalah ruang diskusi adalah tempat ngutang adalah kaum adalah ente!

credit: >

Dani Arditya Rahman Adiyatma Riyanto Novi Wahyu Prihandini Findi Babe Abdurrahman Gamo Baynuri Ikhya Ulumuddin Oktari Redita Putri Ghea Nurhanifah Tefur Nurrohman Sucipto Yosea Arga Muflih Fuadi Awan Herdiawan Muhammad Ikhsan Wahid Al Arsyad Benita Fidela Fajar Shidiq Rachma Amalia

#community #charity #solidarity #litteracy #youth #university #movement #stellerid

    1/42