BEBERAPA TULISAN SINGKAT

vol.2

Sudah lama memutuskan untuk tidak bermain lagi dengan api, Meminta setiap cahaya yang datang untuk pergi, Sementara saya tetap berlari. Berharap sedikit demi sedikit luka itu terobati. Entah dengan cara apa—saya juga masih mencari. Sampai lupa untuk berdamai dengan diri sendiri.

ingin melangkah tapi sudah terlalu lelah lagipula mau kemana? Berlabuh? ah, aku ingin rumah!

Satu persatu orang hilang, Padahal sebelumnya banyak yang lalu lalang. Mungkin mereka lelah bertarung, Atau sudah merasa menjadi pemenang? Dibanding kamu memang aku tidak akan menang. lagipula memangnya cinta untuk dilombakan?—kalau iya, aku tidak akan curang.

kilas balik januari lalu. untuk yang kemarin berlalu, selamat tanggal dua puluh satu.

Kalau besok aku dapat kamu, aku tidak butuh ini itu. Tutur katamu sudah cukup untuk memudarkan semua yang membiru. Hadirmu juga mampu menghilangkan memori buruk masa lalu. Dan genggaman mu akan selalu berhasil menenangkan segala rasa pilu. Kalau besok aku dapat kamu, ..ah imajinasi melulu.

aku ingin istirahat sejenak, sambil menikmati beberapa sajak, siapa tahu aku dapat petunjuk, ke arahmu, dalam peluk.

Kamu masih tetap disitu, membisu. Entah hal apa yang ada dipikiranmu —tapi kutebak perihal mundur atau maju. Dan lagi, kamu terlalu egois untuk tidak peduli kalau manusia lain membiru, Karena mu. “Kalau kamu ragu mending tidak usah.” ucapku sore itu. ..harusnya saat itu aku bisa lebih pintar untuk terlebih dahulu berlalu.

ingin menulis sajak jatuh cinta, tapi semua masih tentang duka cita.

Tidak perlu telanjang dada untuk membuatnya bersamaku, Banyak yang tidak aku mengerti, ia pun tetap mau. Mereka sok tahu atau cemburu? Sampai sampai membuat isu-isu terbaru, tentang aku & segala jurus jitu. Persetan dengan itu, Dia tetap milikku!

disini terlalu dingin, diluar juga masih banyak angin, mereka bilang aku terlalu banyak ingin, padahal inginku cuma kamu aku menangin.

Dan lagi, aku benci pilihan. Akar akar dari segala penyesalan dan beberapa perpisahan. Dan lagi, aku benci pilihan. Ke kiri atau ke kanan, Bertahan atau melepaskan, Mengingat atau melupakan, Dan lagi, aku benci pilihan. Pasti akan ada yang dikorbankan, Seperti saat ini—saat aku lebih memilih dengannya, walaupun dilain sisi aku tahu manusia bukanlah pilihan.

Katamu kita saling mencinta, Setiap saat saling memberi. nyatanya aku hanya meminta Kamu nya malah lari-lari.

Aku tak pandai mencinta, Tak pintar juga dalam matematika. Tapi aku punya banyak cerita, Satu, dua, tig— bahkan lebih dari yang kau minta. Ah— aku lupa bilang, Delapan dua puluh harus sudah pulang! Maaf kalau terlalu buru buru, Aku tak ingin kalah dengan waktu.

Yang tak pernah kau sadari adalah; kau sangat egois. Maaf kalau saya terlalu melankolis, Atau terlalu gampang menangis, Sedikit-sedikit menulis. Tuan, saya hanya pencinta aksara. Kalau boleh, aku ingin kau baca beberapa tulisanku yang tak seberapa. Agar kau tahu bahwa cintamu sudah cukup membuatku sengsara

Malam itu ada bintang jatuh, Satu dua permintaan terucap sebab hati yang bergemuruh. Sementara kau masih acuh, Dan bisaku hanya mengeluh. Padahal baru kemarin kau buatku luluh, Dan kita masih sama sama jatuh.

—deenda

#stellerid #puisiindonesia #sajak #stellerverse #poem #stellerstories #stellerindonesia

Share This Story
get the app