Sebuah Tugas Hina

Merusak Momen, Mengangkut Air dan Menutup Ruang

Di era sepakbola yang super berorientasi ke uang dan sukses instan, seringkali pilihan merekrut pemain itu didasari pada pemilihan bintang yang memenuhi kategori 3F (Fancy, Famous, Fantastis) – well itu sih dari sudut pandang kami. Bisa diamati dari harga jor-joran pada saat merekrut Neymar, Mbappe, Hazard, mundur dikit ke Ronaldo 2009 (eh terus 2018 masih mahal harganya), mundur jauh ke era Galacticos Madrid (Zizou, Figo) bahkan ke era Roberto Baggio dan Michael Laudrup. Sebelum itu kami belum lahir.

Apa iya sih harga waw itu langsung bisa bikin sukses instan? Dari observasi kami sih nggak ya. Well, mungkin karena ada mereka permainan jadi enak dilihat, kayak skill-skill ajaib yang ada di kompilasi YouTube; gol-gol finesse atau freekick ala game FIFA; sampai ke umpan terobosan yang gak ada yang kepikiran bakal kayak gitu – Terobosan Kamiya kalau di komik Shoot. Itu aja cukup buat dapet gelar/sukses?

Di tajuk “What We Failed to See in a Football Match” kali ini kami ingin mengulas peran yang selalu dan akan selalu dilupakan. Ga pernah dihargai. Kayak ga pernah ada aja. Mungkin bisa dianggep kayak selingkuhan atau simpenan. Perlu, tapi kok ga bisa dimention, atau ga bisa diapresiasi. Kenapa? Ya soalnya ketutup sama status yang lain. Status megabintang tadi.

Oke kita lihat tim tim yang sukses 20 tahun ke belakang. Barcelona 2008-2012 ampe sekarang ya pasti Messi, Madrid ya CR7 baru-baru ini dan kalo dulu three wise menZidane-Raul-Figo, Milan’07 sih Kaka’ titisan Tuhan. Di timnas pun, polanya sama Spanyol 2008-2012 ya Xavi-Iniesta; Brazil 2002 dengan 3R (Reuse, Recyle Reduce) –sorrynotsorry the Real Ronaldo R9, il Mago Rivaldo, dan si senyum Ronaldinho.

Gak pernah kan ada yang mengapresiasi Diego Simeone. Kenapa Diego Simeone? Karena dia adalah actor watak yang super kami benci pas masih SD. Yang sudah nonton bola dulu pasti inget insiden sama David Robert Joseph Beckham di St Etienne 1998. Jadi si mongki Simeone ini perannya adalah Gelandang Bertahan yang kotor, kasar. Keras, ngeselin - padahal dia Kapten Argentina lho. Terus pas kena tendang Beckham yang gak terlalu keras (menurut kami saat itu), eh dia jatuh donk gugulingan (well, kayak Neymar sekarang sih). Beckham kan idola semua anak waktu itu dengan rambut belah tengahnya, kena kartu merah. Dan Simeone waktu itu adalah Ultimate Disgrace to Football. Kok bisa ya pemain professional melakukan hal setercela itu pas main bola di Piala Dunia lagi.

Tumbuh kembang anak SD menjadi pria dewasa ternyata membuka mata kami, ternyata ya yang dilakukan Simeone ya gak salah-salah amat, Beckhamnya aja yang ngawur. Persis kayak kita dulu suka Batman, ternyata sekarang karakter TheJoker itu lebih realistis. Simeone sih melakukan apa yang harus dia lakukan. Memutus serangan, mengambil bola liar, dan mengangkut air. Sambil mancing keributan semata-mata merusak tempo serangan lawan saja. Gak penting? Emang. Tapi kalo ga ada yang kayak Simeone waktu itu, kayaknya Inggris bisa juara dunia kali.

Ternyata tim-tim sukses yang sudah sempat kami sebutkan di atas, selalu ada yang perannya 11-12 sama om Simeone, dan sampai sekarang selalu berada di bawah baying-bayang bintangnya. Sergio Busquets di Barca 2008-sekarang, Claude Makelele di Galacticos Klasik, dan Casemiro “the butcher” di Real Madrid sekarang. Di Brazil 2002 ada Gilberto Silva (harusnya ditemenin sama Emerson dia, apes cedera), terus Italia 2006 sampai pakai 2 paket Gattusso dan De Rossi. Pokoknya kalau kalian punya tim favorit, terus gemes dan sebel karena nembus serangan tim yang defensive banget dan umpan-umpan kok gak pernah sampe ke striker, artinya 85% kalian lagi ketemu sama tim yang punya proper DM (defensive midfielder) / gelandang bertahan.

Berhubung lagi hypenya Piala Dunia nih, kami mau kasih kredit special buat gelandang yang jarang diapresiasi sama para pemain FPL – Ngolo Kante  (5x main poinnya Cuma 13, CR7 aja 1 game bisa 18). Ga pernah nge-golin, assist jarang, dan kayak cuma lari lari ga jelas mungutin bola…sampai kita lihat statistik-nya kalau ternyata Kante itu buat sekitar 60 intercept/ball recoveries dalam 6 match, belum lagi tackle-nya yang rerata sampai 4x tiap pertandingan. Dengan kalkulasi waktu 90 menit pertandingan/22 pemain, artinya dalam 4 menit aja dia bisa ngerebut bola sampai 15x cuy – kan sarap.

Pas lawan Belgia dan Argentina beberapa kali kita lihat, Messi/Hazard gocek Pavard/Hernandez, terus bolanya lepas dan kerebut Kante. Hoki? Bisa jadi. Tapi berada di posisi dan waktu yang tepat berkali kali itu rasanya bukan hoki, silahkan tanya Thomas Muller & Filippo Inzaghi. Jadi gak salah rasanya kalau ada meme 70% earth covered by water, the rest is by Kante.

Menjelang final nanti, tugas Luka Modric & Ivan Rakitic cuma satu, bagaimana cara menisbikan ruang, yang biasanya selalu ditutup oleh Kante. Sampai tulisan ini selesai dibuat, kami belum kepikiran gimana caranya soalnya, kalau ada feedback, silakan dicomment ya!

    1/15