Is football coming home?

What you failed to see By sundaymarketstation

Inggris masuk semifinal mengalahkan swedia 2-0. 2 lawan 0, swedia tidak bisa mencetak gol, kemungkinan alasan tidak bisanya swedia mencetak gol sebenarnya bisa macam2 (kalau gak nonton), bisa krn inggris sangat dominan, swedia gak hoki (atau inggris yg hoki), kiper inggris jago banget, wasitnya berat sebelah atau ribuan alasan lainnya. Tapi buat yg nonton banyak yg akan bilang sebenernya pertandingannya berimbang, but is it? Menurut gw pribadi, dari formasi aja gw tau swedia bakal kesulitan lawan inggris. Inggris memakai formasi 352 atau 3511, buat yg familiar ini formasi persis yg dipakai oleh conte waktu membawa italia sampai ke perempat final euro 2016 dengan skuad “pas2an”, sementara swedia memakai formasi yg dipakai sejak babak kualifikasi sampe ke perempat final, classic 442.

Secara permainan bisa ditebak bahwa swedia akan kalah di jantung permainan, swedia bermain dengan 2 central midfielder (gelandang tengah, selanjutnya akan gw sebut dgn CM), sementara inggris bermain dengan 3 CM, bukan 2 attacking midfielder (AM) dan 1 CM, bukan 1 AM dan 2 CM tapi 3 CM. 3 CM ini bergantian menjadi AM saat menyerang (mungkin hendo yg ditugaskan menjaga kedalaman tp fungsinya juga bukan seperti DM). 3 CM ini juga sangat disiplin ketika bertahan dimana 1 pemain akan dibiarkan melakukan pressing kepada pemegang bola sementara 2 pemain lainnya melakukan cover di lapangan tengah, ini pun dilakukan secara bergantian tergantung siapa yg paling dekat dengan lawan yg memegang bola. Tugas albin ekdal dan sebastian larrson pun menjadi berat krn ketika menyerang harus melawan 3 orang sementara ketika bertahan inggris selalu punya 1 extra man yg tidak terkawal. Sebenarnya hal ini disadari swedia yg menarik toivonen agak mundur untuk membantu duet lini tengahnya namun markus berg menjadi kesulitan krn hrs melawan 3 orang. Lah sisa pemain swedia kemana? Emil forsberg dan victor claessen disibukan oleh kyle walker dan harry maguire yg saat menyerang selalu stretch wide, sampe gak berani melakukan gerakan2 cut in yg biasa dilakukan emil selama ini karena khawatir tiba2 kyle atau maguire melepaskan long pass ke depan dengan leluasa.

Akhirnya gol pertama (yang tentunya) untuk inggris hadir melalui set piece. Saya agak berharap janne andersson sadar dan merubah pola permainan sweden namun sayangnya tidak, pola 442 ini dianggap kitab suci yg tidak boleh diubah. Swedia pun bermain seperti menit pertama, seperti kondisi masih 0-0, seperti tidak tahu inggris akan bermain seperti apa. Babak pertama pun selesai, babak kedua mulai lg dan saya kembali berharap swedia merubah polanya, sekali lagi saya di-php oleh janne anderson, satu2nya yg berubah adalah semangat swedia mengejar ketertinggalan. Itu saja. Ya tinggal menunggu waktu gol kedua hadir dr dele alli, yg mendapat crossing, tebak dr siapa? Yak betul, jesse lingard yang tidak terkawal. Janne baru merubah polanya, namun semua sudah terlambat, 352 yg bs berubah menjadi 532 saat bertahan dan 442 saat menyerang, sudah hanya menjadi 532. Tugas inggris hanya 1: run down the clock.

Kembali ke judul, is football coming home? Inggris seperti selalu superior meladeni lawan2nya, formasi 352 menjadi semacam peti besi yg belum ketemu kombinasi angka2nya. Tapi, inggris sudah bermain 5 kali dengan formasi yg persis sama dan pola permainan yg persis sama. Dan lawan di semifinal adalah kroasia, yang punya pemain2 yg memang sudah bermain di level top sepakbola dunia. Terutama lini tengahnya, yg justru adalah motor permainan inggris. Apakah kroasia bisa crack peti besi inggris? Sekedar info, formasi yg sama yg membawa italia ke perempat final euro 2016 dikalahkan oleh jerman yang merubah pola mereka dr 4231 sepanjang kompetisi menjadi 352, formasi yg persis sama dengan italia. Jadi menarik menunggu apakah yg akan dilakukan kroasia mengingat inggris kemungkinan besar tidak akan merubah pola mereka di semifinal.

    1/8