I B U

satu kata, sejuta makna

Untukmu, Pemilik surga, yang kadang terlupakan.

Budak Tuhan yang paling setia.

Adakah orang sebaik dia? Atau apakah hanya aku yang beruntung?

Hitam legam di matanya mengatakan bahwa ia lelah.

Garis keriput di wajahnya menandakan bahwa ia tak lagi sekuat dulu.

Namun mengapa?

Seakan lelah adalah hal yang tabu, Kau tak pernah mengatakannya. Tak pernah menunjukannya.

Seperti kau telah terbiasa untuk bersandiwara.

Seakan kau telah di doktrin untuk tetap tegar.

Layaknya hidup adalah panggung sandiwara. Di mana kau adalah seorang pelakon, yang harus tetap tegar di depan penonton.

Namun dibalik itu semua, Kau hancur.

Aku benci, Ketika melihatnya sengsara, Namun tak ada yang bisa kulakukan.

Mengapa? Mengapa? Mengapa kau melakukan ini?

Mengapa kau begitu baik?

Kau sungguh sangat baik. Hingga aku takut.

Aku takut untuk kehilanganmu.

sehingga, Aku mulai menjauh.

Agar setidaknya, ketika suatu saat kau meninggalkanku, aku tidak akan sesakit itu.

Namun, Kutahu.

Kutakkan bisa menjauh darimu.

Maaf bahwa aku telah menyakitimu.

Aku tahu aku banyak mengecewakanmu.

Namun setidaknya aku ingin kau tahu

Bahwa aku mencintaimu.

Ku tahu aku takkan bisa mengalahkan cintamu

Namun biarlah aku membalas budimu.

Walaupun aku pernah membencimu

Namun kuingin kau tahu

Bahwa semua telah sirna, seiring menuanya waktu.

Seiring dengan berkurangnya waktumu di bumi,

dan semakin mendekatnya pertemuanmu dengan sang pencipta.

dan kuingin kau tahu, bahwa kaulah pemberian terbaik dari Tuhan dihidupku.

Terima kasih.

dari : anakmu yang masih banyak belajar bagaimana caranya mencinta.

#stellerid #puisi #puisiindonesia #shortstory #stellerindonesia #stellerindo

    1/37