Tak ada 'Move on' yang sempurna

Gilbert Kresna

"Kita sudah seharusnya putus", Katamu kala itu. Aku mengiyakan, tidak ingin mencari-cari jawaban. Kita sudah cukup dewasa untuk memutuskan.

Kita sama-sama sepakat untuk tak lagi saling mengikat. Memberi ruang sebagai batas untuk kembali menjadi bebas.

Kita terlanjur percaya pada waktu yang katanya paling lihai dalam melupakan. Nyatanya, waktu memang mampu merubah segalanya tapi tidak pada kenangan yang pernah tersusun rapi.

"Aku masih gemar mengingatmu" Pesanmu lewat surat yang kuterima dari tukang pos pukul 11 malam. Cara yang klasik namun fantastis.

Semuanya berputar dengan cepat. Menarikku ke masa-masa yang dulu bahagia. Bagaimanapun aku tahu diri, Yang telah lepas sulit untuk lekat. Yang telah berakhir jangan harap bisa lahir kembali.

Kubalas pula suratmu. Tak ingin aku mengakali rasa. "Aku juga sama. Kenangan itu suka bermain-main di antara kita. Dan, Aku masih mencintaimu..sewajarnya. Tidak lagi segalanya."

Banyak hal berubah. Soal kita yang pernah dekat dan berbagi segalanya. Menjadi teduh dan kembali utuh Setelahnya kita bertemu lagi sebagai orang yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tak tahu harus berbicara apa.

Kadang kadang kita tidak menyangkah, sesuatu yang dulunya telah berakhir, suatu waktu akan kembali. Kalimat 'aku sudah move on', ternyata bisa berubah menjadi rindu seenaknya sekalipun kita menolak keberadaannya. Sekalipun kita mengabaikan rasanya.

Sebuah masa akan datang, ingin rujuk dan melanjutkan kisah dalam kasih. Sesak yang berdetak kembali merayap dalam dada.

Diam diam kita masih menyimpan rindu untuk saling menyapa. Diantara rahasia ingin temu yang tak pernah bisa menjadi kata kata.

Kau kembali layaknya kekasih yang membuatku merindumu lebih awal lagi hingga aku bersusah payah menjinakkan pikiran-pikiranku tentang perjalanan yang tak lagi sejalan.

Enggan aku menjelajah ke masa lalu, Tempat kita sejatuh-jatuhnya jatuh cinta. Disana ada kamu yang mencintaiku. Sebaiknya, kita tetap disini. Melalui hari dengan hati-hati.

Melupakan bukan hanya menyoal kapan. Melainkan bagaimana kita membiasakan diri untuk tidak mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan. Sementara dirimu dan semua waktu bersamamu adalah bagian dari sesuatu yang menyenangkan pula menenangkan.

Kita masihlah sebagai rumah yang dihiasi tawa dan deras air mata namun tak pernah usang

Setelah ini, masing-masing kita akan hidup dalam ketidakmampuan melupakan dan tak mempermasalahkan kenangan. lalu kita menyakini Bahwa yang berakhir tak usah saling memusuhi β€ŽBahwa yang selesai tak perlu untuk disesali

#stellerID #Steller #stellerloveletter #poem #puisi #poetry #stellerwriter #stellerverse #stellerstills @steller Pict @zacretz Gilbert Kresna Sammen Email : Gilbertkresna49@gmail.com Terimah kasih sudah membaca

Hai ! Berikan Love/Comment yah !! Mention atau Tag penulisnya atau Share Link nya jika ingin membagikan di sosmed lain πŸ˜‰

Share This Story

Autoplay:

get the app