A Story by Richard Marthin

January in Seattle

BAGIAN 1 Gama Company

Bekerja di Gama Company di Seattle menjadi suatu kebanggan buatku, bagaimana tidak? Perusahaan tempatku bekerja sekarang membiayai kuliahku dulu di Universitas Chicago. Setelah lulus sekitar setahun yang lalu, aku langsung di terima bekerja di sini dan langsung menduduki posisi strategis sebagai legal manager. Bukan hal yang mudah untuk bekerja di Gama Company.

Bayangkan saja untuk di terima menjadi karyawan di perusahaan ini seseorang setidaknya seseorang harus melewati dua puluh tahap tes yang sangat sulit. Hal ini berbanding lurus dengan kompensasi yang di dapat oleh karyawan Gama Company; setiap karyawan mendapat mobil dinas, gaji sepuluh kali lipat lebih tinggi dari perusahaan besar di Amerika, beasiswa dan masih banyak lagi.

Ada beberapa perjanjian yang harus ku revisi, — aku di kejar waktu. “Sav, bagaimana perjanjian dengan Xaverio Magazine, sudah kamu cek?” tanya Gamaliel Bethany, CEO dari Gama Company, orang terkaya ketiga di dunia. “Belum pak, akan ku selesaikan siang ini” jawabku dengan perasaan ragu. “Oke, saya tunggu”

BAGIAN 2 Xaverio Magazine

Hari ini aku rapat dengan chief editor Xaverio Magazine, Stevi Hartanto di Manhattan. Gama Company ingin mempromosikan mobil seri terbarunya di sampul majalah Xaverio edisi mendatang. Siang itu aku bertemu dengan Stevi, wanita cantik yang terlihat sudah sangat matang secara pribadi.

Aku dengar-dengar Stevi Hartanto sudah berumur empat puluh tahun lebih, tapi dari parasnya, orang tidak akan tahu dia sudah cukup berumur. Masih terlihat seperti usia 25 tahun. Aku sedikit bernostalgia dengan tempat ini, karena pernah magang di Xaverio sekitar empat bulan. Stevi Hartanto waktu itu belum menduduki posisi chief editor, ia masih asisten editor. Namun aku tidak begitu mengenalnya waktu itu.

Setelah selesai rapat, Stevi mengajakku makan siang dan bertemu dengan fashion stylist Xaverio Magazine sekaligus membicarakan konsep yang akan digunakan pada sampul majah Xaverio selanjutnya. Stevi mengajakku makan siang di sebuah kafe yang terlihat fancy, kami pun memesan. Stevi menceritakan bahwa fashion stylist yang akan datang adalah adik kandungnya.

Terlihat seorang gadis berparas rupawan berjalan masuk kedalam kafe berjalan kearah ku dan Stevi. Clara!? Betapa kagetnya diriku menge fashion stylist yang di maksud oleh Stevi adalah Clara. Clara terlihat syok melihat kehadiranku, “Saverio..” kata Clara tak menyangka.

Kami berdua memiliki masa lalu bersama saat di Chicago. Kami berasal dari kampus yang sama. Dulu aku punya rasa kepada Clara, namun sejak kejadian di taman kampus waktu itu, aku berusaha memendam rasaku padanya. Terakhir aku bertemu dengan Clara saat wisuda kelulusanku pada bulan Januari setahun yang lalu.

BAGIAN 3 Unfinished Business

Kembali ke Seattle. Keesokan harinya setelah pertemuan yang tidak terduga dengan Clara Hartanto. Aku kembali ke Gama Company. Hari ini ada pemotretan Xaverio Magazine di kantorku untuk sampul majalah selanjutnya. Stevi dan Clara juga ada di situ, berat rasanya untuk muncul di tempat pemotretan itu, mengetahui seseorang yang dulu kucintai ada di situ. Tapi aku harus tetap profesional.

Clara sedari tadi menatapku — hanya menatapku. Aku berusaha profesional dan tidak meghiraukan tatapannya. Setelah pemotretan selesai Clara masuk ke ruanganku. “Sav, kamu sibuk?” pekik Clara dari balik pintu. “Oh tidak. Ada apa, Clar?” kataku seolah-olah tak tahu apa yang ingin ia tanyakan. Namun aku sudah tahu pertanyaannya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu, engkau menghilang begitu saja. Kau menjauhiku, tidak membalas pesanku, tidak menjawab teleponku dan tidak membukakan ku pintu saat itu. Ya, aku tahu kau di dalam saat itu, aku melihat bayanganmu” Aku melihat wajahnya penuh dengan rasa tanya. Memang tak adil rasanya, aku menjauhinya saat itu tanpa sebuah alasan.

“Saat itu di taman kampus, aku melihatmu duduk bersama seorang pria berambut pirang, wajahnya sangat tampan, kau bersandar di bahunya, aku merasa kau sudah memiliki kekasih, jadi aku memutuskan untuk menjauhimu dan mundur perlahan dari hidupmu” jelasku kepada Clara.

“Sav, pria di taman kampus waktu itu bukan kekasihku. Dia kakak iparku, Robert, suami Stevi. Waktu itu dia datang untuk curhat padaku mengenai Stevi. Dia ingin melamar Stevi, dia sedang meminta restuku..” sambung Clara dengan nada setengah emosi.

Sudah jelas semuanya. Aku lah ternyata yang bodoh waktu itu. Aku terlalu cemburu — cemburu buta. Aku terlalu cepat menafsirkan sesuatu yang kulihat tanpa mencari penjelasan. Maafkan aku Clara. Sejak saat itu aku dan Clara menjadi dekat kembali, dan aku menyatakan rasa yang ku pendam selama ini kepada Clara. Sebuah rasa yang kini terbalaskan dengan indah.

Follow My Twitter & Instagram: @richmarthin #StellerID #StellerStories #StellerVerse #StellerIndonesia #RichardStory Cover by Pascal Campion

Share This Story
    get the app