Gendang Tambur

"Menyambut"

Menghias Penari Gendang Tambur

Proses menggambar corak khas Papua menggunakan pewarna sederhana. kulit etnis Papua yang eksotis sangat cocok dengan warna putih kapur sehingga terlihat menyala.

Sebelum menari, mereka mendapat pengarahan terlebih dahulu dari pelatih mereka, Pak Joseph Ukulele

SEBUAH PENYAMBUTAN

Di Raja Ampat, Papua Barat, ada satu tarian tradisional bernama Tari Suling Tambur yang para penarinya menggunakan seruling atau suling dan alat musik tambur untuk menghasilkan bunyi-bunyian. Tarian ini dipopulerkan William Ottow dan Johan Gottlob Geissler saat membawa masuk injil pertama kali di Papua. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat menjadikan suling tambur sebagai media untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Itu sebabnya mereka menggelar Festival Suling Tambur di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat. Festival ini bertujuan pula meningkatkan ekonomi serta menumbuhkan kecintaan generasi penerus terhadap Suling Tambur dan industri kerajinan tradisional yang merupakan warisan para leluhur. Dalam foto cerita kali ini, ada sedikit variasi dari para penari, karena alasan kekurangan instrumen suling mereka menggantikan bunyi suling tersebut dengan bersiul. Tarian ini biasanya digelar untuk menyambut para wisatawan yang berkunjung di Raja Ampat. Penari Suling Tambur biasanya dilakukan oleh orang dewasa, namun demi melestarikan budaya ini mereka mewariskan kepada anak-anaknya. Mulai dari prosesi merias sederhana hingga pengarahan ketika manggung nantinya dilakukan dengan sepenuh hati oleh Pace Joseph dan sabar menghadapi para anak-anak yang kadangkala sulit diatur.

Mereka Menyambut dengan tarian dan senyuman hangat

PAPUA ADALAH KITA KITA INDONESIA YUK MARI KEMARI KITA MENARI

LARAKUTI

Share This Story
get the app