AYAM

PEYEMPUAN

Aku adalah peyempuan yang kau setubuhi berulang kali.

Setiap kali berdua, yang kau mau hanyalah menyelipkan kemaluanmu di antara kedua pahaku. Tak adakah yang lain dalam otakmu selain bersetubuh?

Kadang-kadang kau ingin di sela payudaraku, tapi ukuranku tak memungkinkan imajinasimu terpenuhi. Sabar, kau pikir selama ini aku juga terpuaskan olehmu? Geli-geli sih iya, klimaks? Maaf, bisakah kemaluanmu itu kau perintahkan untuk tak cepat-cepat muntah? Aku juga ingin ke puncak, tapi kau egois. Eh, mungkin kau yang lemah?

Kau banyak maunya, namun sedikit mauku tak bisa kau puaskan. Kau pikir hanya kau yang mau merasakan nikmat? Wah, onani saja sendiri kalau mau nikmat sendiri. Atau, carilah sex toys yang bisa kau perlakukan seegois kau mau. Aku manusia, aku punya kemauan, aku punya keinginan, aku punya kebutuhan.

Aku bukan binatang yang dengan seenak ubun-ubunmu bisa kau paksa mengangkang, kau tancap, kau muntahi dan lalu berlalu begitu saja. Kau pikir kita ini ayam? Orang yang mau senam saja, ada pemanasan, inti dan lalu pendinginan. Jangan main gas seenak nafsumu.

Tak guna juga durasi lama kalau yang terjadi hanyalah maju mundur maju mundur cantik, cantik. Tubuh peyempuan adalah sebenarnya-benarnya medan perang yang penuh ranjau kenikmatan. Kau sentuh, kau terbakar, aku pun. Bahkan aku bisa meledak-ledak jika kau benar-benar mengenal tubuhku dan sejenak menyingkirkan birahi ayammu itu.

Coba kau pikir, tiga kali seminggu kita bergumul, satu bulan duabelas kali. 12x12x4 hasilnya 576. Tak usah setengahnya, mencapai angka 76 kali pun, rasa-rasanya sulit sekali bagimu untuk memuaskanku. Lalu selalu kau bilang kalau aku egois? Hahahaha. Kau ini, sudah lemah, egoisnya kebangetan.

Begini...

Yang kau garap dan tampak meringis mungkin makin membakar birahimu. Namun jangan senang dulu, sakit yang tampak itu karena kebodohanmu tak melakukan cukup foreplay.

Dan pernah kau saksikan yang mendesah? Jangan jumawa dulu, belum tentu juga dia sampai pada puncak yang diharapkan. Itu karena kau keburu muncrat. Ada kenikmatan? Ada, tapi bukan puncak, bukan orgasme. Atau yang tampak klimaks, bisa jadi tidak begitu adanya. Sebab ada yang berpura-pura puas hanya untuk memuaskan (ego) pasangannya, Yup, fake orgasm.

Btw, maaf jikalau kejujuran ini melukai egomu sebagai lelaki. Kalau kau benar laki-laki, kau akan benahi diri, bukan makin membesarkan monster dalam diri.

Tapi, jangan kecil hati, banyak kok peyempuan yang memaklumi itu. Dia sudah cukup 'puas', yang penting lelakinya puas.

Tulisan ini ditujukan untuk seseorang yang aku pikir mungkin akan membacanya. Dari aku, peyempuan yang tak pernah berhenti kau jamah dari liar sampai letoy.

Share This Story

Autoplay:

get the app