"BEBEN & LOLY"

Hubungan ini baru berjalan seminggu, tapi baru saja kita putus. Aku kenal dia lewat applikasi chat thinder, kalau kalian belum tahu, semacam aplikasi buat cari jodoh yang menghubungkan penggunanya sesuai minat dan kriteria apa yang ia cari. Istilahnya "match".

Pendekatan yang terjadi antara kita hanyalah sebatas chat. Standar seperti kebanyakan orang. Setelah saling jujur satu sama lain dan mulai ada percikan-percikan rasa, kita merencanakan pertemuan pertama. Dan kita pun bertemu di salah satu cafe di PIM.

Sedari awal, dia sudah jujur, kalau dia adalah seorang musisi yang menyambi usaha jual beli alat musik secara online. Jujur, aku agak kurang yakin dengan jalan hidup yang dia pilih. Maksudnya, aku kurang yakin menjalin hubungan dengan musisi. Tepatnya, aku ragu sama masa depannya. Sementara gue adalah karyawan di salah satu perusahaan swasta.

Ada banyak pertanyaan dan pernyataan dari teman-temanku. "Berapa banyak sih musisi yang benar-benar bisa sukses? Musisi itu gampang gonta-ganti cewek. Paling juga mau manfaatin lo." Diluar itu semua, aku lebih ragu soal masa depan yang terkatung-katung. Aku gak siap dengan keadaan fluktuatif, kadang banyak, cukup dan seringnya kurang.

Akun bukan matre, tapi aku gak siap dengan ketidakjelasan. Lebih baik punya penghasilan flat tapi continue, daripada harus berwas-was ria dengan keadaan yang tidak pasti. Aku akui, aku bukanlah tipikal survival. Salah?

Dan aku tahu dia anak rantau yang masih nge-kost. Kadang aku gak enak hati jika dia harus keluar duit unfuk sekedar makan berdua, tapi dia kekeuh tetap bayar. "Kamu, kalau misalnya berat, jangan dipaksakan, aku sadar kok kamu itu ngekost" "Maksud kamu?"

"Kamu keluar duit banyak kan seharusnya bisa buat kamu makan buat beberapa hari" "Kenapa kamu gak inisiatif?" "Kamu kan cowok" "Terus buat apa komplain?" Mungkin kata-kataku hari itu terlalu jujur hingga merobek harga dirinnya. "Nih, lihat!" Sembari menunjukan saldo di m-bankingnya.

Entah itu bentuk kesombongan atau hanya tindakan tiba-tiba dari seseorang yang egonya tersinggung. Wajar-wajar saja pikirku. Tapi, yang gak wajar adalah jumlah saldo yang aku lihat. "Darimana duit sebanyak itu?" Aku pikir, kemungkinan uang tabungannya itu dari penghasilan online shop. Karena band masih jarang manggung.

"Yang jelas bukan dari mencuri. Tabungan kamu udah berapa?" Aku malu saat dia menanyakan jumlah tabunganku. Tabungannya dalam angka ratusan juta, sementara aku mencapai puluhan pun tak pernah. Kok bisa ya, aku kalah sama seseorang yang penghasilannya tidak tetap. Belum lagi biaya hidup bulanannya sebagai anak kost.

Jujur, jumlah saldo yang aku lihat tidak menggoyahkan ke ragu-raguanku apabila menjalin hubungan serius dengan lelaki sepertinya. "Kamu kuliah lagi aja, terus nanti cari kerja yang pasti-pasti, gitu" "Thanks sarannya, mungkin itu cocok untuk kamu sarankan pada lelaki selain aku" Dia tak juga goyah.

Maksud aku adalah jika dia ingin lebih serius denganku, baiknya dia bekerja. Bukan bekerja seperti pekerjaannya sekarang, tapi ngantor, jadi karyawan atau PNS setidaknya. Aku rasa banyak peyempuan yang berpikiran sama, apalagi kalau sudah berumah tangga, pasti tahu kenapa aku berpikiran seperti ini.

Dan seperti inilah apa yang baru saja terjadi...

"Daripada kamu terus memaksa aku menjadi yang kamu mau, lebih baik..." "Putus?" "Mungkin berteman lebih baik" "Aku gak mau..." "Aku gak bisa" "Tapi, aku mau kau jadi lebih baik" "Baik buatmu memang, tapi itu bukan aku"

"Aku akui apa yang kamu sarankan itu bagus, tapi menyarankan seekor buaya berburu mangsa di darat bukan hal yang pas" "Kamu manusia, bukan buaya!" "Baiklah, aku sarankan kamu jadi guru tk atau sekolah dasar" "Gak ah" "Bukannya menjadi guru itu baik?" "Aku gak bisa, gak ada bakat, bukan jiwaku menjadi guru."

"Tepat sekali, persisi seperti aku, yang kamu sarankan ke aku itu bukan jiwaku. Passionku bukan disitu" Aku gak bisa berkata-kata lagi.

Waktu terasa lambat, pelan-pelan kusadari bahwa ada rasa yang semakin tumbuh di dalam hati. Aku suka dia. Aku mulai sayang. Tapi kenapa di saat-saat sudah putus begini? Eh, bukan putus, hanya break sebentar. Aku masih merasa kekasihnya.

Keteguhan hatinya akan jalan dan pilihan hidupnya yang pelan-pelan mencairkan batu hatiku. Kepandaiannya menabung penghasilan juga patut aku pertimbangkan. Dan, diam-diam aku mengagumi jiwa survivalnya dalam mengarungi kerasnya ibukota.

Aku cukup resah belakangan ini, dia tak lagi responsif pada pesan-pesanku. Biasanya, dengan cepat ia baca dan balas. Namun, kini aku harus banyak mengelus dada, menarik nafas karena sabar yang terus tergerus. Jelas, aku tak suka bila pesanku tidak dibalas atau lambat dibalas. Sebab aku tahu, pedagang online tak mungkin jauh dari hp.

Perasaan ini semakin hebat Apa mungkin aku dipelet? Inikah yang dikatakan kesambet? Cinta...

Gelisa menggerogoti setiap sepi Kenapa aku berantakan begini? Kenapa aku resah begini? Rindu...

Aku harus bertemu dia Aku akan jelaskan semua Tentang perasaanku Tentang rinduku

Masih panjang, baca cerita fullnya di blog 👇🏻 http://bit.ly/2vCMNEP Cerpen ini akan ada di buku terbaru Peyempuan. Segera rilis dalam waktu dekat!

Twitter: peyemp IG: peyempuan FB: peyempuan blog: peyempuan youtube: peyempuan steller: peyempuan snapchat: peyempuans Line: @NIT7021G LOVE, COMMENT, SHARE & FOLLOW

Suka dengan tulisanku? Dapatkan buku-bukuku (Peyempuan, Peyempuan 2, Peyempuan 3, Strong, Nelangsa) di toko buku terdekat. http://peyempuan.blogspot.com #stellerstories #stellerid #stellerwriter #stellerverse #creative #poem #poetry #sajak #cerpen #puisi #peyempuan #books #bestseller

Share This Story
  • deetunggadewi

    Ini mirip kisah ku hanya dibedakan usia kebersamaan, aku 2bln. Dan dia justru sibuk dgn pekerjaannya yg dikatakan "masa training membuat banyak tekanan utkku. Sampai aku tak pedulikan apapun. Hanya terpikir bagaimana menyelesaikan semua tugas2ku di store." 😂

  • msoebroto

    The best lah! 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻💋💋💋💋💋

  • peyempuan

    @deetunggadewi udah lama putusnya?

  • deetunggadewi

    Gak ada kata2 putus sih 😂 tetiba aja dia hilang gak berkabar 2minggu ini. Dan itu bikin drop 😭

  • peyempuan

    @deetunggadewi waduh.. nyesek ya 😅

  • desharana

    Sukaaa ceritanya kakkkk

  • peyempuan

    @definisijarak terimakasih, nanti ada di buku terbaru ;)

  • nithamaya

    Untuk penyebutan diri ada kata “gue” dan “aku”. Jadi agak bingung bacanya. Memang dibikin seperti itu atau salah ketik ya ?

  • mierh_

    😌

  • yudi50

    kereeeen.....

Autoplay:

get the app