PINK

PEYEMPUAN

Ini adalah perjalanan menuju tempat yang aku impikan

Sebuah pulau yang isinya hanya kita berdua. Tak ada penghuni lain, karena memang aku tak ingin. Aku mau yang ada hanya aku dan dia. Tidak ada manusia lain, malaikat apalagi iblis.

Tak ada gelap yang kita lewati tanpa cahaya yang menancar dari sorot mata. Tak ada dingin yang berlalu tanpa hangat tutur kata. Tak ada lelap yang tenggelam tanpa cerita kita.

Kita bercengkrama disetiap cerah. Lalu menjadi payung kala terik atau menjadi sweater saat hujan atau menjadi secangkir kopi ketika suntuk.

Gunung kita daki, lautan kita sebrangi, langit kita arungi. Apalagi yang tak pernah kita jelajahi?

Kita adalah badut, kita adalah komedian. Karena tawa yang tercipta antara kita adalah bahagia. Kita adalah rumah, kita adalah peluk. Karena nyaman adalah barang langka dari sisa-sisa perjuangan melewati masa yang sudah-sudah

Kecup sudah bukan lagi barang tabu, juga peluk. Deg-deg ser yang meletup-letup di dalam darah pun tahu apa yang tengah terjadi. Aku meleleh saat dia belai rambutku dalam hangatnya hidang dadanya Sembari menebak-nebak apa nama hubungan yang tengah kita jalani sekarang.

Kita teman? Iya. Kita pacaran? Tidak. Eh, belum. Eimm, maksudnya belum ada status! Eh, tapi yang telah terjadi? Yang telah kita lewati? Tawa itu? Nyaman itu? Belaian itu? Deg-deg ser itu?

"Aaaaahhhhh! GMZ deh kalau pikirin hal ini. Pengen lupain semua, tapi gak bisa" Dalam keadaan setengah teriak. "Loh, kenapa pengen dilupain?" Sela teman curhatku.

"Dia gak bisa ambil sikap. Merah ya Merah, Putih ya Putih, jangan Pink" "Bukannya lo suka Pink?" "Gak gitu, itu contoh aja. Kzl!" "Woles, gak pake urat kali..."

"Awalnya aku fine-fine aja. Tapi semakin lama, aku semakin gak bisa bohongin perasaan sendiri. Aku makin sayang dan gak bisa kalau gitu-gitu aja" "Udah kode atau apalah gitu?" "Bukan kode lagi, udah aku todong dengan tanya langsung. Dia, sekali lagi, masih Pink."

"Peyempuan mana coba, yang mau terkatung-katung tanpa status hubungan yang jelas?" Sementara dia bisa dekat sama yang lain. Aku? Mana bisa. Kalau aku cemburu, apa alasan aku cemburu? Pacar, bukan? Teman, iya." Sambungku

"Kenapa lo gak ikuti permaian dia? Biar adil" "Aku bukan tipe peyempuan seperti itu. Bukan sok bener, hati aku nolak. Lagian kalau aku ikut begitu, berarti sama aja aku kayak dia. Dan, lo pikir laki-laki gak sakit pas digituin?" "Tumben lo bela laki-laki?" "Kebenaran gak mengenal jenis kelamin"

"Terus, sekarang lo maunya gimana?"

"Aku gak bisa berada dalam lingkaran seperti itu. Awalnya semua mengalir, mengasyikan, lama-lama aku tenggelam. Dan yang paling aku benci adalah keputusannya yang tidak mau ambil keputusan tentang hubungan kita. Dia biarkan mengambang bagai kotoran manusia di Sungai Ciliwung, terombang-ambing tanpa arah, entah sampai ke muara atau malah habis dimakan Lele"

Apapun namanya, friend zone, friend with benefit, kakak-adek zone, TTM, HTS., semuanya adalah jeruji yang mengunci kita dalam sebuah perasaan yang sepertinya indah namun sebenarnya semu. Kau perlu terbang keluar. Carilah seseorang yang mau dan bisa. membangun rumah cinta berdua.

Mungkin awalnya kau sumringah, namun ditengah perjalanan kalau sadar, lalu akan berakhir pada sebuah perasaan yang membuatmu ingin mencakar-cakar dinding langit.

Pulau yang aku impikan itu, mungkin hanya impian. Dia tak jua menuju Merah, apalagi memudar menjadi Putih. Ia mau tetap menjadi Pink. Aku tak bisa, Merah ya Merah, Putih ya Putih.

"So...?"

"Aku quit, sebab perasaan bukan permainan"

More deepest story? Grab PEYEMPUAN NELANGSA and other series at Book Store! Or order at ig @bukuwanita @buku_plus @bukuasyik dll

Twitter: peyemp IG: peyempuan FB: peyempuan blog: peyempuan youtube: peyempuan steller: peyempuan snapchat: peyempuans Line: @NIT7021G Art cover by Jenny Liz Rome LIKE, COMMENT, SHARE & FOLLOW

http://peyempuan.blogspot.com #stellerstories #stellerid #stellerwriter #stellerverse #creative #poem #poetry #sajak #cerpen #puisi #peyempuan #books #bestseller

Share This Story

Autoplay:

get the app