SESAL

PEYEMPUAN

Tiga hari sefelah kita putus, di kepalaku berkecamuk berbagai hal yang muaranya adalah kamu.

Aku yang memutuskanmu dan aku merasa sedikit bangga akan hal itu--karena bukan aku yang diputuskan. Tapi hal itu fana.

Kebanggaan itu setipis kulit bawang, dan aku jatuh pada rasa sakit yang telah kuciptakan sendiri. Iya, waktu itu kau mati-matian bertahan, tak ingin putus dariku. Aku bersikukuh, tak goyah oleh permohonanmu.

Kesalahanmu memang fatal. Dengan berbagai bukti, ku simpulkan kau telah selingkuh! Dan dengan berbagai macam sumpah, kau bantah tuduhanku. Yang kamu akui: "hanya teman dekat, tidak lebih." Tapi, kekasih siapa yang tak terbakar mendengar hal itu?

Kau jatuhkan harga dirimu di depanku dengan memohon. Aku tetap berdiri pada prinsipku: selingkuh = putus!

Hingga akhirnya kau pun menyerah pada kerasku. Putus adalah jalan keluar yang kita tempuh. Meski ku tahu, kau tak pernah mau.

Sekarang sedang ku renung-renungkan, andai pada waktu itu aku mau mendengarkan dengan jernih penjelasanmu, mungkin aku tak senelangsa ini. Ada sedikit rasa sesal telah memutuskanmu. Sungguh.

Harusnya waktu itu ku berikan satu kesempatan untukmu, atas permohonan dan kejujuranmu. Semacam kesempatan kedua yang apabila dilanggar, maka putuslah harapanmu tuk bersamaku.

Kala itu aku lupakan ribuan hari bersamamu, aku tak ingat sedihku yang kau hapus, aku tak ingat maaf yang kau beri, aku tak ingat waktu yang kau curah, aku tak ingat keluarga yang sudah saling mengenal, aku lupakan semua kebaikan hanya karena satu kesalahanmu.

Dan kini, setelah melewati masa-masa terpuruk, aku lihat--di media sosialmu (maaf atas kekepoanku), kau kembali tersenyum lagi. Kau sudah menemukan pengganti diriku.

Entah bagaimana menjelaskan batinku saat itu. Aku rasa gadget ikut bergetar oleh hatiku yang bermuruh. Awan menangis melihat mataku yang menahan ledakan. Aku menyesal kenapa tak sempat ucapkan maaf dan utarakan bagaimana perasaanku setelah masa-masa berpisah.

Huft! Tiada guna lagi. Benar-benar tiada guna. Kau sudah membuka lembar baru dan aku masih berada di sudut ruang sesal, sedang gusar dan memandang sebongkah cinta yang tergeletak tanpa tuan. Ya, itu cintaku. Menyedihkan.

Sementara itu, Kini kau habiskan malam-malammu bersamanya. Makan, menulusuri jalan-jalan kota, nonton, menghitung bintang atau main ke tempat nongkrong teman-temanmu. Hal-hal yang masih sangat pekat di kepalaku!

Mungkin kini dia tengah dalam pelukmu, lalu kau cubit hidungnya, atau kau garuk-garuk kepalanya, atau kau elus-elus pundaknya, atau kau genggam jemarinya dan kau kecup dahinya. Aku tahu betul kecerdikanmu!

Tapi, sudahlah. Sesal tinggallah sesal. Tak mungkin ku obrak-obrik kebahagiaan yang kini kau bangun dengan hadir lagi di kehidupanmu. Cukuplah aku mendoakan kelanggengan cinta yang kalian rajut, dari jauh pandang matamu.

Kalau boleh jujur, aku cemburu karena kau telah bahagia dan bukan aku yang membahagiakanmu.

Sudah punya buku Peyempuan NELANGSA?

Suka dengan tulisanku? Dapatkan buku terbaruku peyempuan NELANGSA dan seri lainnya di toko buku terdekat http://peyempuan.blogspot.com #stellerstories #stellerid #stellerwriter #stellerverse #creative #poem #poetry #sajak #cerpen #puisi #peyempuan #books #bestseller

Twitter: peyemp IG: peyempuan FB: peyempuan blog: peyempuan youtube: peyempuan steller: peyempuan snapchat: peyempuans Line: @NIT7021G Art by LOVE, COMMENT, SHARE & FOLLOW

Share This Story

Autoplay:

get the app