Kupu-Kupu Masa Lalu

peyempuan

Rabu sore, menjelang senja ditelan khatulistiwa, seekor kupu-kupu menyambangi ruang tamu. Berwarna dasar hitam dengan corak kuning keemasan. Cantik sekali, sehingga aku yang biasa-biasa saja ini, semakin tampak biasa-biasa saja. "Oh, mau ada tamu" gumamku. Begitu kira-kira mitos yang kerap kita dengar perihal kupu-kupu yang masuk ke dalam sebuah rumah. Entah itu rumah pribadi atau kontrakan, warisan atau cicilan. "Siapakah gerangan?"

Malam itu habis dengan cepat, tanpa ada tanda-tanda kehadiran seorang tamu. Mungkin tamunya datang beberapa hari kemudian, atau minggu, atau bulan. Mungkin saja tahun? Ah, kalau selama itu, tak akan kupercaya lagi mitos-mitos semacam itu. Sejujurnya, aku tidak begitu peduli soal ada tamu tidak. Aku tidak memikirkannya. Kalau ada tamu, aku sambut sebagaimana wajarnya seorang tuan rumah. Kalau tidak ada? Ya sudah. Bukan sebuah beban bagiku.

Sabtu malam, tiga hari setelah kupu-kupu hitam bercorak kuning emas itu bertandang ke rumah, aku membunuh jenuh dengan bermedsos ria. Cek instagram, lalu twitter, lalu fb. Hal itu berulang secara acak dari satu medsos ke medsos lainnya. Aku tidak begitu sering mengunggah status. Di medsos aku lebih memilih menjadi silent rider. Stalking dari satu akun ke akun lain. Kepo? Ah, namanya juga peyempuan. Yang penting tidak dijadikan bahan gosip.

Tak dinyanah, tak ku duga. Aku membaca status dari seseorang yang seharusnya sudah ku unfollow sejak dulu. Entah lupa, tak rela atau memang masih ada rasa? Duh, kenapa aku tak berhenti mengikuinya di lini masa, ya? "Kangen kupu-kupuku", sebuah cuitan yang langsung membuat aku merasa bahwa postingan itu ditujukan untuk aku. GR? Enggak! Baper? Iya!

Satu-satunya orang yang pernah menjalin hubungan dengannya dan punya tatto kupu-kupu, ya aku. Tahu dari mana? Ya, perkiraanku saja. Rata-rata mantannya adalah peyempuan baik-baik (berdasarkan ceritanya), hanya aku yang rada-rada brengksek. Lagi pula, kupu-kupu adalah panggilan sayangnya ke aku, dulu. Bagaimana jika setelahku ada mantannya yang bertatto kupu-kupu juga? Enggak mungkin, aku yakin yang dimaksud dalam cuitannya adalah aku.

Seketika, hal-hal indah yang pernah kami lewati mengucur deras di ingatan. Saat pertama kita kenalan di sebuah pensi. Saat kita kehabisan bensin sepulang dari kencan yang ke tiga. Saat dia cium aku di kencan yang ke tujuh. Saat dia lumat aku di kencan yang ke lima belas.

Salah satu yang cukup membekas adalah saat kita kehujanan di kencan yang ke dua puluh satu. Aku basah kuyup sampai ke dalam-dalam. Aku pinjam flanelnya meski kedodoran tapi dia bilang, aku tampak seksi dengan baju gombrang seperti itu. Tentu saja, karena aku tak pakai celana. Hanya boxer ketat yang kuambil dari tumpukan underwearnya yang berantakan di lemari meskipun sudah dicuci.

Sebentar. Dalam situasi seperti itu, apa yang biasanya terjadi? Ehem... Ya, untungnya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Loh, bukannya tidak diinginkan? Sebagai mahluk yang masih memiliki hawa nafsu, muda dan bergairah, berdua di tempat yang tertutup, hujan, dingin dan sedang dimabuk asmara, siapa yang tidak ingin? Kami tak melakukan apa-apa selain berbagi cerita dan menikmati secangkir teh panas.

Tapi akhirnya kami saling lilit setelah tertidur 3-4 jam. Menjelang subuh, di kamar tempat kami berbagi cerita sambil minum teh panas. Mungkin, satu-satunya alasan kami tak melakukannya kemarin adalah keadaan kostan yang masih terlalu ramai dan berisik. Dan kami mengulanginya lagi sesaat sebelum aku harus pulang. Senyum sumringah terpampang di wajah di sepanjang jalan menuju kostanku. Pelukku tak pernah lepas dari tubuhnya.

Yang kusuka darinya adalah dia tak pernah bertanya tentang kapan aku kehilangan keperawanan, siapa yang pertama kali, berapa kali aku melakukannya, seperti pria-pria kebanyakan. Possesif, inferior, kekanak-kanakan, sok menasehati tapi ujung-ujungnya mesum juga. Kotoran banteng! Dia tak pernah memancing pembicaraan seks agar aku membayangkan dan horny. Kalau kami akhirnya bergumul, itu insting, spontan, seperti api yang menyambar bensin.

Setelah wisuda, dia harus pulang ke kampung halaman. Tak mungkin menahannya, sebab aku tahu dia sudah merencanakan itu jauh-jauh hari, jauh sebelum kami bertemu. Bukannya tak pernah membahas tentang hubungan jangka panjang yang lebih serius, tapi aku tak siap meninggalkan tanahku untuk ikut dia di seberang sana. Bukan soal apa, impian hidup kita memang berbeda. Tak perlu dipaksa atau dibuat drama.

Meski tak pernah ada kata putus, kami sadar, sejak pertemuan terakhir di bandara Soekarno Hatta, itu adalah akhir episode kisah kami. Kami sama-sama sepakat untuk tidak lagi saling menghubungi, apapun bentuknya. Meski kita masih berteman di beberapa applikasi chat dan medsos, aku menghindari untuk mencari tahu status-status yang dia unggah. Kita tak pernah membangun komunikasi. Pernah ada chat diantara kami tapi sebatas ucapan hari raya. Tidak pernah lebih dari itu.

Cuitannya tentang rasa rindunya pada kupu-kupu berhasil mengobrak-abrik pertahananku. Memaksaku memutar ulang episode-episode yang telah kami lalui. Membangkitkan kembali kenangan yang telah lama mengendap. Membuatku senyum-senyum sendiri bersama secuil rasa yang tersisa. Kini, dia hadir di depan pintu, mengetuknya dengan sebuah status singkat, lalu masuk ke dalam rumah kenangan di lubuk hati. Selamat datang tamuku.

Kusambut dia sebagaimana tamu, tapi tak bisa lebih dari seorang tamu. Jangan pernah berharap menjadi raja sebab singgasana itu sudah runtuh sejak perpisahan di bandara. Mau apa lagi? Setelah keseruan membuka lembar-lembar masa lalu, ku ijinkan dia pamit. Pulang ke tempat di mana seharusnya dia berada: masa lalu.

"Kupu-kupu telah menjelma menjadi ratu. Dan sang ratu sudah punya sang raja" Ku unggah sebaris status, yang entah dia baca atau tidak.

More deepest story? Grab my book: PEYEMPUAN NELANGSA and other series at book store! Or order here: 085695231672

Twitter: peyemp IG: peyempuan FB: peyempuan blog: peyempuan youtube: peyempuan steller: peyempuan snapchat: peyempuans Line: @NIT7021G Art by KSENIA_L at favim.com LIKE, COMMENT, SHARE & FOLLOW

http://peyempuan.blogspot.com #stellerstories #stellerid #stellerwriter #stellerverse #creative #poem #poetry #sajak #cerpen #puisi #peyempuan #books #bestseller

Share This Story

Autoplay:

get the app