Menunggu sampai batas sabar

Gilbert Kresna

Perihal Menunggu...

Sudah makan waktu lama tapi aku masih bertahan. Egoku bersikukuh untuk segera beranjak. Sedang diriku semakin gelisah, karena tak ada tanda-tanda kedatangan.

Lagi-lagi aku dihadapkan pada keharusan untuk menunggu. Tanpa sebuah jaminan, yang kutunggu akan segera menghampiriku. Tanpa sebuah kepastian, yang kutunggu masih setia menginginkanku.

Banyak yang datang menawar namun aku enggan menerima karena diri terlalu percaya, yang pergi akan kembali, yang berjanji datang akan tertepati.

Sebagian kita sepakat, menunggu adalah hobi paling tidak diminati. Selain menghabiskan banyak waktu, menunggu membuat kita menyianyiakan kesempatan baru.

Ada pula sebagian mereka percaya, dengan menunggu, keseriusan sedang diuji. Bukankah keseriusan itu tak melulu dibuktikan dengan menunggu?

"Tunggulah dulu, ia sedang menuju" "Tenang saja, ia pasti menghampiri" "Jangan khawatir, kedatangannya takkan terlambat" Kira-kira begitulah kalimat yang aku terima hingga aku masih sedikit betah disini. Barangkali seharusnya aku tidak perlu berjudi dengan itu.

Mungkin memang benar, kepercayaan diri terlalu tinggi bahwa penantian akan selalu berbuah manis.

Menunggu diantara kemungkinan-kemungkinan selalu saja menyesakkan. Mengambil pilihan namun diliputi keraguan. Terlalu candu akan semua kenyamanan yang sudah-sudah. Sebuah harapan untuk bisa berlanjut selalu kurajut. Tidak menyadari bahwa tak ada yang sesuatu yang tetap sama--semua akan berubah--Hanya masalah waktu saja.

Logika mengataiku : Kau harus menyudahi. Telah banyak terlewati, kedatangannya meluluh tak pasti. Berlawanan dengan hati yang membujukku : Tetaplah disini, ia akan kembali, tak perlu bersikeras untuk pergi, semuanya akan terkendali.

Bibirku menggerutu, mengapa hati dan logika diciptakan untuk saling bertentangan ? Seharusnya mereka saling bersepakat sesaat sebelum aku menerima keputusan.

Aku semakin tidak kerasan, beranjak pergi mungkin pilihan beresiko namun harus kulakukan daripada aku bertaruh pada ketidakpastian. Hidup terlalu singkat untuk sekedar menunggu, dan menjadi sia-sia untuk sekedar berharap pada kenihilan. Bila pada akhirnya pilihanku berlabuh pada penyesalan, paling tidak aku sudah berani untuk membuat keputusan.

"Yakin akan datang lagi ? Pastikanlah sebelum semuanya percuma." Katamu. Kuhela napasku dalam-dalam

Sekali lagi, kutengok jam di sudut stasiun kereta, sudah pukul 10 malam, itu berarti sudah 5 jam aku duduk di tempat ini; menunggu. Kurogoh kantong untuk merobek habis tiket keretaku, mataku terbelalak, sialan ! ternyata besok baru jadwal keberangkatanku.

#StellerID #Stellerstories #stellerself #Steller2017 #stellerstills #stellerfall #stellerloveletter Pictures by Instagram Instagram : Kresnagilbert Email : Gilbertkresna49@gmail.com kritik dan saran 👇👇 Dikolom Komentar Terimah kasih sudah membaca

Hai ! Berikan Love/Comment yah !! Mention atau Tag penulisnya atau Share Link nya jika ingin membagikan di sosmed lain 😉

Share This Story

Autoplay:

get the app