BELING

akan pribadi terdalam

Apa rasanya jika bulir-bulir air matamu mengeras menjadi kaca? Dalam versi yang lebih buruk, yang jadi remah roti kuda-kuda lumping, rupa yang kita sebut beling.

BELING

Tentu saja aku menyukai hujan. Tidak pernah berhenti kagum pada bentukan butirannya yang stabil, ritmiknya yang seperti dentum: satu, dua, satu, dua. Rintik dan deras hujan menjadikan bumi penghujung bulan Juni menguarkan bau tenang. Aku menikmatinya.

Hatiku sedih sekali belakangan ini. Aku tidak tahu apa yang hilang. Seperti ada sakit di ulu hati yang tak kunjung selesai. Mungkin ada teman yang pergi membawa rusuk, atau dijejali rangkaian belulang yang tidak sesuai dengan denyutku.

Ketika hujan turun, manusia menuduk seperti malu. Mereka akan lari menuju atap yang kokoh dan pongah, tidak sadar banyak keindahan yang sembunyi di antara rerintikan. Kubiarkan tubuhku kuyup.

Kala menatap hujan malam ini, awan-awan tampak bercahaya. Mungkin ini yang sering kita lewatkan ketika membaca gerak-gerik hujan, apakah hujan bahagia harus jatuh setiap saat?

Awan gelap menyelimuti kapas-kapas pikiranku. Sesak sekali rasanya. Mengapa, ya?

"Ah, tak apa lah," pikirku. "Sekali ini saja." Sudah kuputuskan bahwa aku akan merayakan rasa sedih dan sakit hatiku. Yang meski sebenarnya hanyalah dramatisasi selepas hari yang melelahkan, seperti musikalisasi sabda hujan..

Dan membiarkan diriku semakin berdarah atas susul menyusul air mata yang menyublim beling tajam. Tidak apa-apa, berdarahlah. Menyatulah seperti hati, seperti perasaan malam ini.

BELING

Stefany Chandra

#stellerid #stellerstories #stellerid #stellerverses #stellerpoem #prose #shortstory #story #steller

Share This Story
    get the app