SURAT DARI MANTAN

PEYEMPUAN

Aku telah melupakanmu, dalam arti tak pernah membayangkan segala tetekbengek yang menyangkut dirimu, apalagi bermanja-manja dalam kubangan kisah kita dulu.

Aku sudah bahagia, meski tak terlampau, tapi jauh lebih merekah dari masa-masa ketika ku masih terlena, terkekang oleh racunmu.

Bodohnya aku memaknai cinta waktu itu, hingga harus melucuti semua yang seharusnya masih kugenggam erat. Dosa itu... Manis tapi mematikan akal Indah tapi membunuh nalar Logika tak lagi menelusur di jalur yang seharusnya.

Berjuta detik mengalir. sampai masanya kita harus punggung-punggungan dengan berat hati (bagiku, entah bagimu)

Aku memohon, aku mengemis agar kau tak meninggalkanku --meski sebenarnya yang kutangisi adalah ketakutanku akan masa setelah kau pergi dan tak ada yang mau menerimaku seutuhnya.

Tapi, Kau tak peduli permohonanku. Kau tak peduli pada peyempuan yang telah kau robek jiwa raganya ini. Kau tak peduli pada sumpah serapahku!

"Salah sendiri, kenapa mau?" Katamu. "Kau ikut nikmati juga, kan?"

"JAHATNYA!" Teriakku dalam hati Aku Gemetar Mematung Menangis Pingsan.

Butuh waktu yang lama mengampuni diriku --dan dirimu, sebelum akhirnya harus menerima realita bahwa kau yang memang tak mau lagi bersamaku, hingga akhirnya kau tuang banjir alasan agar aku menyerah dalam ketidaknyamanan.

Tapi, ya, sudahlah, meski kau patahkan harapanku dengan trikmu yang sadis, walau pasca perpisahan itu aku runtuh, berserakan, meratap, nelangsa

Aku sadar perasaan tidak bisa dipaksakan.

Dan tak ada wind tak ada rain (setelah bertahun-tahun lamanya) kau mengirimkanku sepucuk surat.

"Hai, apa kabar? Lama sekali kita tidak bertegur sapa, entah kau masih ingat aku atau tidak. Aku salah satu mantanmu, yang kau bilang telah merobek jiwa ragamu. Sebenarnya aku tak ingin mencongkel lagi luka lama, tapi mungkin ini satu-satunya cara agar kau ingat nama dan wajahku --meski kutahu dengan mengirim surat ini, kau akan mengingat segala yang pernah terjadi antara kita; pahit manis.

Jika kau tanya perihal maksudku mengirim surat ini, maka jawabnya adalah aku ingin meminta maaf. Ya, aku minta maaf...

Aku minta maaf atas lancangnya aku mengirim surat ini --karena jelas-jelas akan mengantar pikiran pada masa-masa perih, dan tentunya akan sedikit mengganggu kebahagiaanmu.

Aku minta maaf telah memutuskanmu dengan berbagai alasan yang sebenarnya aku buat-buat. Aku minta maaf bila dulu pernah mematahkan hatimu dan buatmu kecewa. Aku minta maaf bila pernah menjadi sebab airmatamu jatuh.

Aku minta maaf bila ada pinjaman (benar, aku tak lupa, aku hanya pura-pura lupa) dan sampai kini tak terbayar. Aku minta maaf bila ada janji yang belum sempat tertunaikan.

Dan yang TERPENTING, Aku minta maaf telah menjadi yang pertama menerobosmu, mengajakmu ke pintu terlarang, mengenalkanmu dosa, menggelinangkanmu di lumpur pekat. Aku minta maaf telah menjadi pengecut yang ingkar janji dan lari dari tanggung jawab.

Tak perlu kau balas surat ini, aku hanya memohon kau memaafkanku dari lubuk hatimu yang paling dalam. Tolong, jangan kau abaikan permohonanku seperti dulu aku tak peduli pada permohonanmu.

Jika kau tanya apa alasanku repot-repot mengirim surat ini kepadamu adalah tak lain tak bukan karena tepat sehari yang lalu aku baru saja resmi menjadi bapak dan anakku adalah seorang PEYEMPUAN.

TOLONG, MAAFKAN AKU

Demi Anakku..

http://peyempuan.blogspot.com #stellerid #stellerwriter #stellerverse #creative #cerpen #sajak #puisi #poem #poems #art #artwork #books #peyempuan

More deepest story? New book: PEYEMPUAN NELANGSA πŸ‘‡πŸΌ http://bit.ly/peyempuan

Twitter: peyemp IG: peyempuan FB: peyempuan blog: peyempuan youtube: peyempuan steller: peyempuan snapchat: peyempuans Line: @NIT7021G Ilustrasi: @dolosan (IG) @edu_vidiella_illustration

Share This Story

Autoplay:

get the app