PEYEMPUAN

SADIS

Sekarang, aku sedang menyeka bekas-bekas alir air mata di wajah manisku, sisa sembab semalam oleh sesak, alurnya jelas, membekas, seperti situs sejarah yang jika digali lebih dalam, kan bertaburan cerita-cerita yang telah usai oleh dua kata darimu

Hubungan ini tak sehari-dua hari dibangun. Bertahun-tahun sudah, dan kau telah berakar di hatiku. Cintamu menancap dalam, menunggang di jiwaku. Seandainya jantungku dibedah, degupnya terdengar namamu. Bila otakku dibelah, sel-selnya tergambar wajahmu.

Aku pikir, hubungan kita baik-baik saja. Dan memang baik-baik saja seperti adanya. Semua hal berjalan seperti biasa. Aku tak membelah hati, perhatianku terus berkicau, kau masih meliputi pikiranku, ku masih selalu menomorsatukan semua hal tentangmu.

Tapi, lamanya membangun komitmen, betapa aku cinta, rencana-rencana kita, luka dan airmata, benar-benar tak ada gunanya. Ya, semua itu tak guna!

Dan yang paling sakit dari semuanya adalah caramu melepaskan. Benar-benar di luar sangkaan --dan ini kusadari belakangan.

Awalnya, kau tiba-tiba menghilang tanpa rimba. Lama, tak tahu kemana. Dan dikemunculanmu lagi, kau berubah berkebalikan dari semua yang ku kenal darimu.

Kau yang ramah jadi pemarah. Kalau aku marah, kau ikut marah. Saat seharusnya aku yang marah, kau menukar posisi, kau yang jadi lebih meledak-ledak dalam amarah. Akhirnya aku yang harus meminta maaf.

Kalau kau salah, pasti aku yang lebih salah. Sebab saat ku bahas salahmu saat ini, kau balas dengan mengorek-ngorek masa laluku, kesalahanku, yang jelas-jelas sudah berlalu dan sudah tidak perlu dibahas lagi. Akhirnya apa? Ya, aku yang salah, aku yang minta maaf.

Kau ogah-ogahan berkabar di berbagai medium, kalau ku tak memulai, kau tak mengirim apapun padaku. Itupun, harus cukup bersabar karena betapa lamanya kau membalas pesanku. Dan kau tahu aku benci situasi itu. Kalau ku telepon, sampai lemah daya gawaiku, tak kau jawab.

Saat ku bahas di kesempatan pertemuanku yang langka denganmu, sudah jelas, aku yang seharusnya marah tapi malah kau yang marah-marah dan ujungnya aku yang salah.

Kau malas-malasan menjemputku, kau banyak alasan kala ku ajak bertemu muka. Tidak ada malam minggu atau kencan seperti biasa. Yang ada malam suram dalam kesendirian . Tak ada makan berdua. Yang ada makan hati oleh sikapmu yang tak seharusnya.

Bila ku bahas di kesempatan pertemuanku yang langka denganmu, sudah jelas, aku yang seharusnya marah tapi malah kau yang marah-marah dan ujungnya aku yang salah.

Kau tak ragu-ragu lagi memasang foto peyempuan lain selainku. Menulis namanya dengan simbol-simbol unyu --yang memuakkan di mataku. Dan kau tahu, aku sangat tak suka ini. Tapi, kau terus melakukannya.

Kalau ku bahas di kesempatan pertemuanku yang langka denganmu, sudah jelas, aku yang seharusnya marah tapi malah kau yang marah-marah dan ujungnya aku yang salah.

Dan akhirnya, kau menuduhku yang bukan-bukan. Ya, Kau menuduhku menuduhmu yang bukan-bukan. Kau menuduhku suka mencari-mencari kesalahan. Menuduhku marah-marah tak jelas. Menuduhku cari-cari masalah. Menuduhku bosan dan menuding kalau aku sudah tak mau lagi denganmu.

Keterlaluan

Kalau limpahkan semua kelakuanmu di ujung hidungku. Benar-benar tak kusangka.

Kau sengaja buatku benci, kau sengaja buatku tak nyaman (lagi). Kau sengaja menciptakan suasana yang aku tak suka. Hingga akhirnya aku yang dengan terpaksa pergi. Dan lalu, saat aku yang memutuskan pergi, kau berpura-pura menahanku.

Tapi, percuma, aku tak mau lagi ada di sini. Kau berhasil membuatku muak atas tindak-tandukmu. Saat aku bersikeras pergi, kau pun menohok ku lagi dengan bilang aku yang memang tak mau berjuang lagi bersamamu. Sadisss memang kau!

Ya, trikmu sadis!

Tapi, semesta tidak buta

http://peyempuan.blogspot.com #stellerverse #creative #poems #sajak #cerpen #puisi #arts #artwork #peyempuan #poetry #books #stellerid

Twitter: peyemp IG: peyempuan FB: peyempuan blog: peyempuan youtube: peyempuan steller: peyempuan snapchat: peyempuans Line: @NIT7021G Artwork by @beautifulbizarremagazine (IG)

Dapatkan buku terbaruku PEYEMPUAN NELANGSA di toko buku kesayanganmu!

1/27